Assalamualaikum.
Hai, semua...
Perkenalkan, aku Rafah. Mungkin kalian sudah melihatnya di bagian nama penulis. Ini blog pertamaku. Tapi ini bukan pertama kalinya aku menulis. Bisa dibilang aku tertinggal jauh oleh teman-teman yang juga suka menulis karena aku sangat baru ingin memulai menulis apapun di sini. Semoga kalian bisa menikmati.
Aku terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Benar, aku anak pertengahan. Bukan hal yang asing untuk diberitahu bahwa anak tengah-tengah selalu "berbeda" dibanding kedua saudaranya. Aku memiliki satu kakak perempuan, dan satu adik laki-laki. Kami akur seperti saudara lainnya. Akur, kata yang memiliki banyak definisi dalam konteks persaudaraan. Kami hidup bersaudara seperti persaudaraan pada umumnya. Kau tahu, seperti bertengkar kemudian kembali damai, rebutan remote tv, menyuruh adik membelikan sesuatu agar dia dapat meminjam handphone kakaknya. Dan lain sebagainya.
Kukira saat keluar rumah, akan semenyenangkan saat kita bertiga bekerjasama agar dapat pergi liburan. Ya, perkiraanku salah. Ternyata lebih menyenangkan berbagi canda bersama teman-teman sekolah. Saat Sekolah Dasar, seolah akulah yang menjadi pusat perhatian semua orang. Karena aku terlahir seperti orang Cina, berkulit putih, dengan postur tubuh yang ideal untuk seorang bocah berusia 10 tahun, dan tentu saja wajah yang mulus. Saat itu, akulah pemeran utamanya. Menjadi juara kelas, mengikuti lomba, menjadi pemimpin kelas, dan menjadi primadona. Namun kau tahu, pemeran utama adalah orang yang paling tersiksa di setiap kilasan film. Aku hampir gila karena semua yang aku banggakan. Aku merasa bersalah. Tapi aku tak tahu kepada siapa aku harus meminta maaf. Entah berawal dari kapan, tapi ternyata akulah yang menjadi bahan pembicaraan kakak kelas. Saat itu sedang berkembang kata-kata "alay", "lebay", dan "anak mami". Kuakui, akulah satu-satunya di atara teman-teman kelas yang menggunakan jasa ojek untuk antar-jemput sekolah. Kupikir karena itu, jadi kuputuskan untuk berhenti dan ikut jalan kaki bersama teman-teman.
Apakah berakhir?
Tentu tidak.
Bahkan lebih buruk. Sekumpulan kakak kelas itu semakin menyebutkan kata-kata tersebut dengan lantang di belakang barisan aku dan teman-teman. Hal yang bisa aku lakukan adalah menangis di kamar. Aku berkali-kali meminta untuk pindah sekolah. Aku tidak bisa menceritakan kejadian ini kepada kakak dan adikku, karena kupikir itu hal yang memalukan. Aku hanya bercerita kepada mama, dan respon beliau adalah menyuruhku untuk mengabaikan. Akan kulakukan jika aku bisa. Tapi hari demi hari semakin buruk. Karena kelasku, berdampingan dengan kelas mereka. Sampai pada puncaknya, aku menulis surat permohonan maaf atas apapun yang sudah kulakukan. Bahkan aku tidak tahu jika menjadi orang yang diantar-jemput dengan ojek adalah sebuah kesalahan. Aku meminta tolong temanku menyampaikan surat itu kepada mereka. Kemudian di hari yang sama, mereka melemparkan gumpalan kertas ke jendela kelasku. Hal pertama yang kulakukan adalah menangis. Mungkin itulah tangisan pertamaku di depan banyak orang. Mereka memintaku untuk melakukan hal bodoh di depan kelas mereka. Tentu saja aku tidak ingin membuat keadaan semakin memburuk, kubiarkan mereka menyebutku dengan julukan itu sampai mereka lulus.
Kurasa drama anak SD itulah yang membuatku menjadi orang seperti sekarang ini. Memasuki tahun pertama sebagai seorang anak SMP, bagiku tidaklah mudah. Tahun terakhir menjadi seorang murid sekolah dasarku pun, tidak sebahagia tahun-tahun sebelumnya. Seakan kulepaskan peran utama yang sudah menjadi milikku di tahun-tahun sebelumnya. Aku hampir tidak memiliki teman saat pertama kali menjadi anak baru lagi. Karena, aku tidak percaya siapa pun. Sampai seseorang menyapaku dengan gayanya yang membuatku spontan tertawa. Namanya Wiwi, gadis polos dan cantik. Kami memutuskan untuk duduk di meja yang sama selama dua semester. Hidupku tidak terlalu berat semenjak mengenal Wiwi. Tapi aku tetaplah Rafah, saat pisah kelas, aku tidak berusaha untuk tetap terkoneksi dengannya.
Memasuki tahap pubertas untukku sangat amat sulit. Berat badan naik, jerawat bermunculan, dan kulitku sedikit menggelap. Tentu aku baik-baik saja dengan fisikku, sampai ada seseorang yang memanggilku "babon". Kemudian ia tertawa, tapi tidak denganku. Aku selalu menghindari cermin. Bahkan saat hendak berangkat sekolah pun aku tidak membutuhkannya untuk sekadar memakai jilbab. Untuk apa? Toh, merias diri untukku sama sekali tidak merubah apapun. Aku hanya mengandalkan parfum agar aku bisa berbicara kepada orang-orang yang kubutuhkan. Tapi hal tersebut tidak bekerja pada orang-orang yang memandangku seperti kerbau. Aku hanya bisa menundukkan kepala saat orang-orang memandangku dari kepala sampai kaki. Tidak, jangan salahkan mereka. Aku memang merasa bahwa saat itu akulah masalahnya. Muka berminyak dan jerawat menumpuk. Aku berubah menjadi kura-kura payah dan lemah. Membawa ransel yang berat, berjalan dengan kepala merunduk, dan rasa bersalah yang tiada henti.
Masa SMP yang kelamku sudah berakhir. Saatnya aku kembali menyalakan sinar yang sudah lama redup. Hal yang bisa kulakukan adalah berdamai dengan masa-masa itu dan beralih menjadi Rafah yang merdeka. Tentu saja, aku berhasil, hampir. Sedikit lagi. Seperti lagu Ariana Grande, Almost Is Never Enough. Aku rasa, tidak ada satu pun yang bisa kupercaya dari teman-teman SMA-ku. Aku tidak menyalahkan mereka, aku pun mencoba untuk tidak lagi menyalahi diri sendiri, hanya saja semesta akan tetap membiarkanku menjalani hidup dengan rasa kosong. Sejujurnya, ketakutan akan peristiwa drama anak SD itu terulang kembali. Aku hanya berpikir, mereka yang biasa kusebut teman, bisa saja menyakitiku seperti orang-orang itu. Bahkan dengan cara yang lebih bisa membuatku mati. Membangun dinding setinggi dan sekuat mungkin agar tidak ada seorang pun yang dapat merusaknya dan aku dapat hidup dengan tanpa rasa gelisah.
Kejadian-kejadian tersebut termakan oleh waktu. Termasuk segala usahaku untuk memperbaiki penampilan agar tidak dipandang sebagai kerbau lagi. Berdiet, meskipun tidak 100% berhasil, mengobati semua masalah wajah, belajar tersenyum saat bercermin. Dan belajar memuji diri sendiri. Memasuki tahun pertama sebagai seorang mahasiswi, merupakan hal yang kurasakan seperti saat masuk SMA pertama kali. Aku harus menyalakan sinar yang redup itu. Tidak perlu menjadi primadona, aku hanya ingin dianggap sebagai manusia normal dan dapat bersuara. Kupikir aku berhasil. Saat ini aku berusia 19 tahun, memasuki semester 3. Dan dengan bangganya, aku bersyukur akan hal tersebut.
Kepada orang-orang yang bisa kusebut sebagai teman, terimakasih. Jangan lupakan Wiwi, karena ialah awal mula ku melangkah untuk dapat sekadar berbagi cerita ringan saat jam istirahat kepada beberapa orang yang menerimaku.
Perkenalan yang panjang, kurasa. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca kisahku. Kuharap, aku dapat berbagi segala kisah yang kualami di sini. Semoga harimu menyenangkan :)
Wassalamualaikum!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar